Setiap manusia pasti punya masaah. Selama kita hidup sudah dijamin pasti menghadapi masalah. Ada 3 faktor yang menyebabkan masalah itu dapat kita hadapi yaitu:
1. Alam; gempa bumi, tanah longsor, banjir dsb. Karena hal tersebut dapat membuat manusia ditimpa dan menghadapi masalah / persoalan.
2. Lingkungan sekitar / lingkaran luar dari diri sendiri; meliputi keluarga, pergaulan, lingkungan kantor, tetangga, lingkungan tempat kita berinteraksi. Dari lingkungan sekitar kita juga bisa menghadapi masalah, perbedaan pendapat, cara pandang yang berbeda dll dapat menimbulkan persoalan hingga mau tidak mau kita semua ditimpa masalah.
3. Internal diri sendiri (dari dalam diri pribadi setiap manusia); masalah yang timbul dari dalam diri sendiri pun ada. Minder, sakit hati, kecewa berkepanjangan dll.
3 point diatas mau tidak mau memang setiap manusia akan hadapi. Menyikapi emosi kita sangatlah erat hubungannya dengan SQ (kecerdasan rohani). Diharapkan setiap kita memiliki tingkat kecerdasa rohani yang setiap saat bertumbuh.
Contoh saja saat menghadapi kematian orang yang kita sayangi, bagaimana orang dapat memahami bahwa kehidupan bukan soal hidup selamanya namun ada juga kematian. Bagaimana menyikapi tentang kematian bahwa setelah itu ada satu kehidupan lagi yang abadi.
Atau contoh juga seorang gadis dan pria yang sedang memadu kasih, namun ditengah perjalanan cinta mereka sang pria berpaling pada gadis lain. Sang gadis merasa kecewa sedih berkepanjangan, sementara sang ibu saat mengetahuinya berkata: thanks god….
Si gadis bingung saat ibunya mengatakan thanks god, apakah ibunya bahagia diatas penderitaan anak gadisnya? jawabannya sederhana NO!!
Ada sisi kecerdasan rohani yang sang ibu miliki yaitu sudut pandang sang ibu yang bersyukur tat kala anak gadisnya sudah “putus’ saat masih berpacaran, bagaimana jika seandainya saat “pisah” tersebut terjadi sewaktu mereka telah membina rumah tangga? Nah pemikiran dan pemahaman seperti ini lah yang diharapkan, dan saat hal ini diutarakan pada anak gadisnya tentunya dengan harapan sang anak tak lagi berlaurt dalam kesedihan dan dapat melihat sisi kehidupan dari sudut pandang yang lebih dalam lagi.
Contoh lain, saat usaha bangkrut. Hati tidak berterima hingga menyesali diri bahkan enggan untuk bangkit memulai dengan usaha yang baru. Jika kecerdasan rohani yang bertumbuh maka kebangkrutan tidak menjadi sesuatu yang mengecewakan karena hidup tak selalu diatas dan hidup tak selalu dibawah, hidup juga tak selalu statis, maka saat pemahaman akan kebangkrutan tidak lagi menjadi sesuatu masalah / persoalan yang menjadikan seolah-olah kehidupan berakhir.
Contoh-contoh diatas hanya sebagian kecil saja bagaimana menyikapi emosi negative dalam diri manusia. Orang yang memiliki kecerdasan rohani yang terus bertumbuh seiring berjalannya waktu pasti dapat menyikapi dan memahami hidup sebagai sebuah realita bukan bayang-bayang hingga akhirnya dapat mengembalikan segala sesuatu yang terjadi sebagai wewenang kekuasaan Tuhan.
Ada beberapa hal yang dapat kita pahami agar tingkat SQ kita bisa bertumbuh;
1. Jangan cintai segala apapun di dunia ini melebihi cinta kita kepada Sang Pencipta langit dan bumi. Tak kali kita mencintai apapun didunia ini melebih cinta kita pada sang pencipta, saat sesuatu yang kita cintai itu rusak, hancur dan sirna maka itu akan menjadi bumerang bagi diri kita. Pahami lah bahwa apapun yang ada didunia ini hanya bersifat sementara.
2. Menyikapi segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan bahwa Tuhan jadikan segala sesuatu yang baik dan punya maksud tertentu.
3. Jangan selalu tanya; mengapa Tuhan ini terjadi pada saya?
Tidak selamanya Tuhan janjikan langit cerah, dan tidak selamanya pula Tuhan janjikan langit gelap.
Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsip menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA .
Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya, yaitu satu keping uang logam itu, ke dalam telepon.
“Halo, apa kabar?” telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara. David dengan nada agak terisak berkata:
“Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan.” Ibu David berkata: “Anakku tersayang, mama tahu.”
“Sudah tahu, kenapa masih tidak mengirim uang?” David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya, “Mama, apa yang telah terjadi di rumah?”
Ibu David berkata, “Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang lagi, Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri.”
Ibu David berbicara sampai disitu, tiba-tiba menangis tersedu sedan.
Di ujung telepon lainnya, air mata David juga “tes”, “tes” tak hentinya menetes, dan ia berpikir Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung.” David berkata kepada ibunya, “Mama, jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian.”
Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jikalau memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out.
Pada detik ketika David mengatakan “Sampai jumpa” kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu, sungguh luar biasa menyakitkan, karena prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut. Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar menggerojok keluar dari alat itu.
David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima uang-uang tersebut. Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri, 100% boleh, pertama: karena tidak ada yang tahu, ke dua: dirinya sendiri betul-betul sedang membutuhkan. Namun setelah bolak- balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya. Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin yang hebat, David memasukkan salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian pelayanan umum perusahaan telepon. Mendengar penuturan David, nona petugas pelayanan umum berkata, “Uang itu milik perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin telepon).”
Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus menerus memuntahkannya kembali. Sekali lagi David menelepon, dan petugas pelayanan umum yang berkata, “Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan.” Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran kesepian dan kuyu, nona petugas pelayanan umum sangat dapat merasakannya, menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu.
Tak lama kemudian, nona petugas pelayanan umum menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah itu. Dia berkata kepada David, “Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat ini tidak mempunyai cukup tenaga, tak ingin demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana .”
“Hore!”, David meloncat saking gembiranya.. Sekarang, uang logam itu secara sah menjadi miliknya. David membungkukkan badannya dan dengan seksama nenghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat David bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan nanti. Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus sepanjang jalan. Ia memutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan.
Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David menjumpai boss perusahaan supermarket, menceritakan kepadanya tentang kejadian di telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Si boss supermarket memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya. David bekerja dengan sangat giat, boss sangat mengapresiasinya dan juga merasa kasihan. Si boss memberinya upah dobel.
Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan, uang dikirim balik ke David. Sang ibu menulis di dalam suratnya: “Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup. Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan.” Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu dibantu. Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya.
Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi laba US $ 100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon tersebut: “Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah, perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana US $ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat tidak melupakan untuk berjuang. Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya.”
Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan surat yang dipenuhi antusiasme: “Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk pada $9,50 yang dikembalikan dengan $10.000, melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan.”
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah di atas? Walau di saat-saat paling sulit,
Pertama : Jangan melupakan harapan sudah ada di depan mata.
Kedua : Jangan lupa menjaga moralitas.
Setelah 20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David? Di kota Chicago, Amerika, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC. Pendiri perusahaan ADDC, Presiden Direktur nya ialah David, selain itu juga David adalah salah satu penyumbang terbesar untuk badan amal. (sumber renungan harian)
Tingkat kecerdasan David telah berhasil menyikapi tentang hidup dan kehidupan.